Rabu, 11 Desember 2019


Pengertian Hari Akhir
            Hari Akhir yaitu hari kiamat yang didahului dengan musnahnya alam semesta ini. Jadi pada hari itu akan matilah seluruh makhluk yang masih hidup. Bumi pun akan berganti, bukan bumi atau langit yang sekarang ini.
            Selanjutnya Allah swt. lalu menciptakan alam lain yang disebutnya dalam akhirat. Disitulah seluruh makhluk akan dibangkitkan yakni dihidupkan lagi setelah mereka mati. Ruhnya dikembalikandalam tubuhnya dan dengan demikian mereka akan mengalami kehidupan yang kedua kalinya.
Setelah dibangkitkan (diba’ats) lalu setiap jiwa akan dihisab (diperhitungkan) seluruh amalannya baik yang berupa kebaikan atau keburukan.
Oleh sebab itu, maka barang siapa yang kebaikannnya dapat melebihi keburukannya, tentulah oleh Allah swt. akan dimasukan dalam surga, sedang yang keburukannya lebih banyak dari kebaikaanya, maka akan dimasukan oleh Allah swt. dalam neraka.[1]
Nama-nama Hari Kiamat[2]
1.      Yaum al-Qiyamah (Hari Kiamat)
Nama yaum al-qiyamah terdapat dalam tujuh puluh ayat yang ada dalam al-quran. Diantaranya adalah dalam firman Allah berikut
QS. An-nisa: 87)
QS. Al-Isra’: 97)
Secara bahasa, kata al-qiyamah berasal dari kata qama-yaqumu. Berdasarkan kebiasaan orang Arab, masuknya tanda ta’nist pada kata al-qiyamah berfungsi untuk mempersangat (li al-mubalaghah). Hari kiamat, dengan demikiandiberi nama yaum al-qiyamah karena pada waktu itu terjadi beberapa peristiwa yang sangat besar sebagaimana yang telah dijelaskan dalam beberapa nash. Salah satunya adalah peristiwa bangkitnya manusia untuk menghadap Allah.
2.      Yaum al-Akhir (Hari Akhir)
QS. Al-Baqarah:177
QS. An-Nisa’: 74

Hari kiamat  diberi nama yaum al-akhir karena tidak akan ada hari lagi setelah (hari) itu-hari yang terakhir.
3.      Al-sa’ah (waktu)
QS. Al-Hijr
QS. Thaha:15
Kata al-sa’ah dipakai sebagai nama untuk hari kiamat bisa jadi karena waktunya yang memang dekat. Hal tersebut karena segala sesuatu yang segera identik dengan sangat dekat. Bisa jadi karena sebagai peringatan tentang terjadinya peristiwa-peristiwa yang sangat dahsyat dan mengelupaskan kulit. Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa hari kiamat dinamakan dengan al-sa’ah karena hari itu datang secara tiba-tiba dan dalam waktu tertentu.
4.      Yaum al-bats (hari kebangkitan)
Allah berfirman
QS. Al-Hajj: 5
QS. Aruum: 56
Ibnu Manzhur berkata: Bahwa yang dimaksud dengan al-bats adalah penghimpunan kembali oleh allah terhadap orang-orang yang mati. Membangkitkan orang-orang yang mati berarti menghidupkan mereka kembali untuk hari kebangkitan.
5.      Yaum al-fashl (Hari Keputusan)

(QS. Al-shaffat: 21)
QS. An-naba’: 17
Nama yaum al-fashl ini digunakan untuk hari kiamat karena pada hari itu Allah memutuskan di hadapan para hamba-Nya terhadap perkara-perkara yang selalu mereka perselisihkan. Dan karena Allah juga memutuskan di hadapan para hamba-Nya hal-hal yang selalu mereka perdebatkan.


Fungsi iman kepada hari akhir[3]
            Al-quran itu sangat memperhatikan sekali perihal persoalan hari akhir dan ini dikarenakan beberapa sebab seperti:
1.      Ia akan snntiasa menjaga dan memelihara diri dari maelakaukan perbuatan dosa dan maksiat dan akan selalu taat dan bakti kepada tuhan  karena segala amal, baik atu buruk akan ada balasannya di hari akhirat
2.      Ia akan sabar dalam menghadapi segala cobaan dan penderitaan hidup karena ia yaqin bahwa kesenangan dan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya adalah di akhirat nanti.
3.      Ia memilik tujuan yang jelas yang ingin dicapai dalam setiap gerak dan tindakan yang dilakukannya, yaitu kebajikan yang dapat membawanya kepada kebahagiaan hidup di akhirat.

           

Kisah Hari Kiamat
Semua Makhlu di Kumpulkan di Padang Mahsyar
Secara syara’, al-hasyr berarti mengumpulkan semua makhluk pada hari kiamat untuk dihisab dan mereka diberikan keputusan nasib mereka.
Proses pengiringan manusia ke padang mahsyar disebutkan sejumlah ayat dan hadist secara berbeda dan saling berlawanan, sebagian ayat dan hadist mengisyaratkan bahwa yang mengiring dan mengumpulkan manusia ke mahsyar adalah api. Namun sebagian yang lain menyebutkan bahwa yang mengiring mereka adalah malaikat. Sebagian ayat dan hadist juga menunjukan bahwa manusia akan berjalan kaki di atas tanah, sebagian lain mengindisikan bahwa mereka akan diangkut hewan tunggangan, atau diseret wajahnya. Sebagian ayat dan hadist mengisyaratkan bahwa ada perbedaan antara kelompok kafir dan mukmin dalam proses pengiringan mereka ke padang mahsyar, sebagian lain menunjukan tidak ada perbedaan di dalamnya.
Menurut ayat Al-quran dan hadist nabi, peristiwa dikumpulkannya manusia pada hari kiamat terbagi menjadi tiga macam:
1.      Manusia digiring dan dikumpulkan ke padang Mahsyar
Peristiwa ini terjadi setelah tiupan kebangkitan, yakni ketika manusia berhamburan kelaur dari kuburnya. Api mengiring mereka ke padang mahsyar.
Apabila unta-unta yang bunting ditinggalakan (tidak terurus), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan 9at-takwir [81]:4-5). Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda, “kelak manusia akan dikumpulkan dengan tiga cara, (1) orang-orang yang dipenuhio rasa harap dan takut, (2) dua orang menunggangi sat ekor unta, tiga orang menunggangi satu ekor unta, empat orang menunggangi satu ekor unta, dan sepuluh orang menunggangi satu ekor unta, (3) dan sisnaya akan dikumpulkan api yang akan terus menyertai mereka di setiap siang, malam, pagi, dan sore.
2.      Manusi digiring dan dikumpulkan ke tempat perhitungan amal hisab
Bumi akan lenyap,dan berada digenggaman Allah. Langit akan digulung dengan tangan kanan-Nya. Dan, manusia akan dikumpulkan untuk perhitungan amal.
Diriwayatkan dari mujahid berkata, “ ibnu abbas berkata kepadaku , tahukah engkau luas neraka? Aku menjawab, “tidak. Benar demi Allah, engkau tidak mengethuinya,”katanya. ‘Aisyah pernah bercerita kepadaku bahwa ia bertanya kepada Rasulullah tentang firman tentang firman. Pada hari kiamar, bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya (al-Zumar [39]:67). Ia bertanya, ‘dimanakah manusia beradan pada waktu itu, ya Rasulullah? Beliau menjawab, diatas jembatan jahnnam.”
3.      Manusia digiring dan dikumpulkan ke surga atau neraka
Setelah proses perhitungan amal (hisab) dan pemisahan orang-orang kafir dari oran-orang mukmin, dikumpulkan kelompok kafir dengan wajah mereka diseret menuju neraka, kelompok alabrar dengan berjalan kaki, dan kelompok al-muqorrabun dengan berkendaraan. Oarng-orang yang dikumpulkan di neraka jahannam dengan diseret wajahnya, mereka itulah yang paling buruk tempatnya dan saling sesat jalannya (al-furqan [25]:34).
Diriwayatkan dari Qatadah dari Anas bin Malik bahwa seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah, orang kafir akan dikumpulkan dengan diseret wajahnya pada hari kiamat kelak Bagaiman itu terjadi?  Belia balik brtanya, “ Bukankah yang membuatnya bisa berjalan di atas wajahnya pada hari kiamat? Laki-laki itu pun berkata, “Benar. Mahakuasa Tuhan  kami.”
Ingatlah pada hari ketika Kami mengumpulkan orang-orang yang bertakwa kepada Allah Yang Maha Pengasih bagaikan kafilah yang terhormat (Maryam[19]:85). Maksudnya, mereka dikumpulkan sambil mengendarai hewan tunggangan.
Kondisi Manusia di Padang Mahsyar
·         Mereka dibawa ke hapadan Allah dengan berbaris. Dan mereka akan di hadapan Tuhanmu dengan berbaris.
·         Mereka tidak berbicara sepatah kata apa pun
·         Mereka panik, kaget dan lupa segala hal selain dirinya.
·         Manusia melupakan nasab, keturunan dan keluarganya. Setiap orang sibuk mengurusi dirinya masing-masing.
·         Mereka semua akan berlutut
·         Mereka akan dihadapkan kepada Allah tanpa sesuatu apa pun yang tersembunyi dari mereka.[4]

Kondisi Hari Kiamat

1.      Bumi berguncang dan gunung-gunung hancur lebur
Ketika kiamat terjadi Allah mengabarkan kepada kita tentang keadaan bumi dan segala isinya, termasuk gunung. Bumi dan gunung-gunung akan diangkat. Keduanya dibenturkan hingga hancur lebur. Apanila sangkakla ditiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gununug, lalu dibenturkan keduanya sekali benturan. Pada hari itulah terjadi kiamat (al-Haqqah [69]:13-15). Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (al-fajr [89]:21). Pada hari itu, gunung-gunung yang berdiri kokoh dan keras akan berubah menjadi butiran pasir yang lembut.
2.      Lautan Meluap dan Menyala
Dan apabila lautan dijadikan meluap (al-infithar[82]:3). Ibnu Abbas berkata, “Allah meluapkan sebagian lautan ke sebagian yang lain.” Al-Hasan berkata, “Airnya hilang. ”Qotadah berkata menjadi satu dengan air asin,”Air tawar (air sungai akan bercampur (lautan.” Al-Kalbi berkata,”lautan menjadi pasang.”
Demi  lautan yang penuh gelombang (at-tur [52]:6). Dan apabila lautan dipanaskan  At-takwir [81]:6). Inmu Abbas berkata, “Lautan dinyalakan sehingga menjadi api yang berkobar.”Al-Hasan berkata”Lautan menjadi kering.”
Syekh Al-Hafizh al-Hukmi berkata, “Dengan mengambil pendapat-pendapat mereka, maknanya adalah sebagian lautan akan akan diluapkan, sesang sebagian lainnya akan dinyalakan sehingga menjadi api dan kemudian kering tanpa air.”
3.      Langit Bergoyang dan Terbelah
Alla mwnciptakan langit sebagai salah satu kebesaran-Nya Ia adalah ciptaan teragung, terbesar, dan terluas. Ia tidak bersudut dan tidak pula betiang. Sungguh ia, ia citaan teragung Allah. Meskipun demikian, pada hari kiamt nanti, dalam hal warna dan kerapuhan ia akan menjadi seperti mawar.” Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti kilauan minyak (Ar-Rahman [55]:37). Dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi rapuh (al-Haqqah) [69]: 16). Demikian karena langit berguncang sangat hebat.
Langit akan terbelah, Allah berfirman, Apabila langit terbelah dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya patuh (al-insyiqaq [84]:1-2). Sebelah terbelah, langit menjadi seperti pintu-pintu terbuka lebar. Langit pun dibuka, mak terdapatlah nenerapa pintu. Saat itu para malaikat akan turun untuk menghitung semua amal perbuatan manusia.
4.      Bumi digenggam dan digulung dengan langit
Setelah itu, Allah akan mengulung langit. (Ingatlah) pada hari langit Kami gulung seperti menggulung lembaran-lembaran kertas 9al-sijil). Sebagaiman Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi. Janji yang pasti Kami tepati. Sungguh Kami akan melaksanakannya (al-Anbiya’ [21]: 104.
5.      Matahari digulung, bulan gelap, dan bintang  berjatuhan
Apbila matahari digulung dan bintang-bintang berjatuhan (at-takwir[81: 1-2). Ibnu Abbas mengatakan bahwa maksud digulung adlah cahanya digelapkan. Sedangkan yang lain berpendapat makna digulung adalh dilipat, lalu diempaskan. Bila terjadi, cahayanya akan hilang.
Dalam hadist disebutkan bahwa, “Matahari dan bulan akan digulung pada hari nkiamat nanti.” Maksudnya,  keduanya akan digabungkan dan digelapkan.
Bintang-bintang akan terlepas dari tempatnya, lalu akn berjatuhan ke bawah menimpa penduduk bumi. Cahanya hilang, dan akhirnya lenyap
6.      Bumi diganti
Bumi tempat pijak kita inia akan diganti. Keadaan bumi akan berubah total dan menjadi mahsyar pertama. Setelah itu, pada hari ketika manusia dikumpulkan ke tempat perhitungan amal di shirat bumi ini akan musnah. Lenyap sepenuhnya.  Diriwayatkan dari Sahl ibn Sa’d bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Pada hari kiamat, manusia akan dikumpulkanndi atas tanah putih kemerah-merahan seperti lembaran roti naqi’. Disana tak ada petunjuk apa pun. Setelah itu, manusia akan dipindahkan dan dikumpulkan ke tanah tempat perhitungan amal (Mahsyar kedua).
7.      Semua Makhluk bersujud kepada Allah dan Para malaikat turun
Setelah manusia dibangkitkan dari kubur dan dikumpulkan ke padang mahsyar, lalu kejadian mengerikan pada hari kiamat juga sudah terjadi, bumi pun sudah diganti, dan manusia telah dikumpulkan ke tanah tempat perhitungan amal pada saat itulah turun barisan malaikat. Pada hari ketika langit pecah mengeluarkan kabut putih dan para malaikat diturunkan secara bergelombang (al-furqan [25]: 25), Pada hari ketika ruh dan para malaikatberdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata, kecuali yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan dia hanya mengatakan yang benar. Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barang siapa menghendaki, niscaya dia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya (an-naba [78]: 38-39). Yang dimaksud “ruh” disini adalah malaikat jibril. [5]



[1] Sayid sabiq. Aqidah Islam(Ilmu Tauhid): Pola Hidup Manusia Beriman. (Surabaya : Diponegoro, 1995) Hlm. 429
[2] Umar Sulaiman Abdullah. Kiamat Amat Dahsyat. (Yogyakarta : Mitra Pustaka. 2010) Hlm. 4-10
[3] Sayid sabiq. Aqidah Islam: suatu kajian yang memposisikan akal sebagai mitra. (Surabaya : Al-Ikhlas, 1996) Hlm. 80
[4] Abdul muhsin al-muthairi. Buku Pintar Hari Akhir. (Jakarta : Zaman, 2012) Hlm. 225-229
[5] Ibid., Hlm. 237-247

Minggu, 06 Oktober 2019

PERAN SEKOLAH MENGATASI PROBLEMATIKA PESERTA DIDIK


PERAN SEKOLAH MENGATASI PROBLEMATIKA PESERTA DIDIK
Makalah ini dibuat untuk melaksanakan tugas matakuliah Psikologi Perkembangan
Dosen Pengampu Drs. Nur Munajat, M.Si.





Disusun Oleh:

Hasan Ibadin       (15410060)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2016
KATA PENGANTAR

Alhamdulillaah, Segala puji bagi Allah SWT, Berkat rahmat dan nikmat-Nya penyusun mampu menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Perkembangan. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW.
Dalam penyelesaian makalah ini, tidak sedikit rintangan yang penyusun hadapi. Baik yang berasal dari dalam diri penyusun sendiri, maupun dari luar diri penyusun. Tetapi penyusun menyadari bahwa selesainya makalah ini dikarenakan pertolongan, bantuan, dan simpati Allah SWT melalui orang lain, baik keluarga, masyarakat, dan pemerintah, sehingga rintangan yang penyusun hadapi dapat terselesaikan.
Penyusun mengucapkan terima kasih kepada Bapak Drs. Nur Munajat, M.Si. selaku dosen pembimbing mata kuliah Psikologi Perkembangan yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Penyusun sadar bahwa makalah yang penyusun sajikan masih memiliki berbagai kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kepada dosen pembimbing dan pembaca sekalian saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna membaikkan makalah ini.
Akhir kata hanya kepada Allahlah kita akan kembali dan kita akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang kita perbuat.


Yogyakarta, 27 Oktober 2016




         Penyusun

DAFTAR ISI



 

 

 

 







BAB I

PENDAHULUAN

A.           LATAR BELAKANG

Berbeda dengan teori-teori belajar dalam paradigma behavioristik yang menjelaskan belajar sebagai perubahan perilaku yang dapat diamati yang timbul sebagai hasil pengalaman, teori belajar kognitif menjelaskan belajar dengan berfokus pada perubahan-perubahan proses mental internal yang digunakan dalam memahami dunia eksternal. Proses tersebut digunakan mulai dari mempelajari tugas-tugas sesederhana seperti mengingat nomor telepon hingga tugas-tugas yang kompleks seperti memecahkan masalah matematik yang mendetil. Dengan demikian, teori-teori kognitif menekankan bahwa – dalam proses belajar – pembelajaran aktif dalam mengembangkan pemahaman mereka sendiri tentang topik yang mereka pelajari.
Makalah ini merupakan hasil mengkaji dari berbagai sumber yang tujuannya untuk mengetahui teori belajar kognitif.

B.            RUMUSAN MASALAH

1.        Bagaimana perkembangan kognitif pada manusia?
2.        Apakah yang dimaksud keterampilan metakognisi?
3.        Bagaimana implikasi keterampilan metakognisi dalam pendidikan?

C.           TUJUAN PENULISAN

1.        Agar memahami perkembangan kognisi pada manusia
2.        Agar mengetahui keterampilan metakognisi.
3.        Agar memahami implikasi keterampilan metakognisi dalam pendidikan.

 

 





BAB II

PEMBAHASAN

A.  PERKEMBANGAN KOGNITIF

Psikologi kognitif mengacu pada semua proses pemindahan, pengurangan, pengelaborasian, penyimpanan, perbaikan dan penggunaan input sensoris.[1]

Perkembangan kognitif merupakan dasar bagi kemampuan anak untuk berpikir. Hal ini sesuai dengan pendapat Ahmad Susanto (2011: 48) bahwa kognitif adalah suatu proses berpikir, yaitu kemampuan individu untuk menghubungkan, menilai, dan mempertimbangkan suatu kejadian atau peristiwa. Jadi proses kognitif berhubungan dengan tingkat kecerdasan (intelegensi) yang menandai seseorang dengan berbagai minat terutama sekali ditujukan kepada ide-ide belajar. Perkembangan kognitif mempunyai peranan penting bagi keberhasilan anak dalam belajar karena sebagian aktivitas dalam belajar selalu berhubungan dengan masalah berpikir.

Menurut Ernawulan Syaodih dan Mubair Agustin (2008: 20) perkembangan kognitif menyangkut perkembangan berpikir dan bagaimana kegiatan berpikir itu bekerja. Dalam kehidupannya, mungkin saja anak dihadapkan pada persoalan-persoalan yang menuntut adanya pemecahan. Menyelesaikan suatu persoalan merupakan langkah yang lebih kompleks pada diri anak. Sebelum anak mampu menyelesaikan persoalan anak perlu memiliki kemampuan untuk mencari cara penyelesaiannya.

Husdarta dan Nurlan (2010: 169) berpendapat bahwa perkembangan kognitif adalah suatu proses menerus, namun hasilnya tidak merupakan sambungan (kelanjutan) dari hasil-hasil yang telah dicapai sebelumnya. 12 Hasil-hasil tersebut berbeda secara kualitatif antara yang satu dengan yang lain. Anak akan melewati tahapan-tahapan perkembangan kognitif atau periode perkembangan. Setiap periode perkembangan, anak berusaha mencari keseimbangan antara struktur kognitifnya dengan pengalaman-pengalaman baru. Ketidakseimbangan memerlukan pengakomodasian baru serta merupakan transformasi keperiode berikutnya.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas disimpulkan bahwa faktor kognitif mempunyai peranan penting bagi keberhasilan anak dalam belajar karena sebagian besar aktivitas dalam belajar selalu berhubungan dengan masalah mengingat dan berpikir. Perkembangan kognitif dimaksudkan agar anak mampu melakukan eksplorasi terhadap dunia sekitar melalui panca inderanya sehingga dengan pengetahuan yang didapatkannya tersebut anak dapat melangsungkan hidupnya.

Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif

Perkembangan kognitif anak menunjukkan perkembangan dari cara berpikir anak. Ada faktor yang mempengaruhi perkembangan tersebut. Faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif menurut Piaget dalam Siti Partini (2003: 4) bahwa “pengalaman yang berasal dari lingkungan dan kematangan, keduanya mempengaruhi perkembangan kognitif anak”. Sedangkan menurut Soemiarti dan Patmonodewo (2003: 20) perkembangan kognitif dipengaruhi oleh pertumbuhan sel otak dan perkembangan hubungan antar sel otak. Kondisi kesehatan dan gizi anak walaupun masih dalam kandungan ibu akan 13 mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Menurut Piaget dalam Asri Budiningsih (2005: 35) makin bertambahnya umur seseorang maka makin komplekslah susunan sel sarafnya dan makin meningkat pada kemampuannya. Ketika individu berkembang menuju kedewasaan akan mengalami adaptasi biologis dengan lingkungannya yang akan menyebabkan adanya perubahan-perubahan kualitatif di dalam sruktur kognitifnya.
Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa banyak faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kognitif. Menurut Ahmad Susanto (2011: 59- 60) faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kognitif antara lain:
a.       Faktor Hereditas/Keturunan
Teori hereditas atau nativisme yang dipelopori oleh seorang ahli filsafat Schopenhauer, mengemukakan bahwa manusia yang lahir sudah membawa potensi tertentu yang tidak dapat dipengaruhi oleh lingkungan. Taraf intelegensi sudah ditentukan sejak lahir.
b.      Faktor Lingkungan
John Locke berpendapat bahwa, manusia dilahirkan dalam keadaan suci seperti kertas putih yang belum ternoda, dikenal dengan teori tabula rasa. Taraf intelegensi ditentukan oleh pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya dari lingkungan hidupnya.
c.       Faktor Kematangan
Tiap organ (fisik maupaun psikis) dikatakan matang jika telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing. Hal ini berhubungan dengan usia kronologis.
d.      Faktor Pembentukan
Pembentukan adalah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi. Ada dua pembentukan yaitu pembentukan sengaja (sekolah formal) dan pembentukan tidak sengaja (pengaruh alam sekitar).
e.       Faktor Minat dan Bakat
Minat mengarahkan perbuatan kepada tujuan dan merupakan dorongan untuk berbuat lebih giat dan lebih baik. Bakat seseorang akan mempengaruhi tingkat kecerdasannya. Seseorang yang memiliki bakat tertentu akan semakin mudah dan cepat mempelajarinya.
f.       Faktor Kebebasan
Keleluasaan manusia untuk berpikir divergen (menyebar) yang berarti manusia dapat memilih metode tertentu dalam memecahkan masalah dan bebas memilih masalah sesuai kebutuhan.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa faktor utama yang mempengaruhi perkembangan kognitif anak adalah faktor kematangan dan pengalaman yang berasal dari interaksi anak dengan lingkungan. Dari interaksi dengan lingkungan, anak akan memperoleh pengalaman dengan menggunakan asimilasi, akomodasi, dan dikendalikan 15 oleh prinsip keseimbangan. Pada anak TK, pengetahuan itu bersifat subyektif dan akan berkembang menjadi obyektif apabila sudah mencapai perkembangan remaja atau dewasa.
Perkembangan kognitif berkaitan dengan perubahan-perubahan yang terjadi , dan sedikit banyak membentuk pola-pola yang teratur sepanjang rentang kehidupan individu. hal ini dapat dipelajari dari perspektif psikologi perkembangan, perkembangan neurokognitif, dan atau perkembangan kognitif. Perkembangan kognitif secara spesifik difokuskan pada perubahan dalam cara berpikir, memecahkan masalah, memori, dan intelegensi.

Salah satu teori perkembangan kognitif adalah menurut piaget yang menyatakan bahwa pertumbuhan intelektual secara biologis ditentukan dan diatur oleh dua proses, yakni organisasi dan adaptasi. Organisasi mengacu pada sifat dasar struktur mental yang digunakan untuk mengeksplorasi dan memahami dunia. pikiran dalam perspektif piaget bersifat terstruktur atau terorganisasi, meningkat kompleksitasnya, dan terintegrasi.

Tingkat berpikir yang paling sederhana adalah skema, yaitu representasi mental beberapa tindakan fisik maupun mental yang dapat dilakukan terhadap objek.

Sedangkan adaptasi mencakup dua proses yaitu asimilasi yang merupakan proses perolehan informasi dari luar, dan pengasimilasiannya dengan pengetahuan dan perilaku kita sebelumnya, dan akomodasi yang meliputi proses perubahan adaptasi skema lama untuk memproses informasi dan objek-objek baru dilingkungannya.

Perkembangan kognitif juga mempunyai ciri-ciri yang membedakannya dengan perkembangan lain diantaranya bersifat kuantitatif, perubahannya linier dalam suatu tahap dan adanya perubahan kualitatif melintasi 4 tahapan utama, yaitu:

1. Sensorimotor (0 - 2 tahun): ciri-cirinya adalah dunianya terbatas pada saat sekarang dan disini, belum mengenal bahasa, dan belum memiliki pikiran pada masa-masa awal.

2. Pra-operasional (2 - 7 tahun): ciri-cirinya adalah Pikirannya bersifat egosentris, pemikirannya didominasi oleh persepsi, intuisinya lebih mendominasi dari pada pikiran logisnya, dan belum memiliki kemampuan konservasi.

3. Operasional konkret (7 - 11 tahun): ciri-cirinya adalah memiliki kemampuan konservasi, kemampuan mengklasifikasi dan menghubungkan, pemahaman tentang angka, mampu berpikir konkret, dan memiliki perkembangan pikiran tentang reversibilitas.

4. Operasional formal (11 tahun ke atas): ciri-cirinya adalah Pikirannya bersifat umum dan menyeluruh, mampu berpikir proposional, mampu membuat hipotesis, dan perkembangan idealismenya semakin kuat.


B.            KETERAMPILAN METAKOGNISI

Metakognisi menggambarkan proses mental yang terlibat dalam
pentransformasian, pengkodean, dan pelacakan kembali suatu
informasi.
Secara sederhana metakognisi didefinsikan sebagai “memikirkan  kembali  apa yang telah dipikirkan”, bahkan ada ahli yang menghubungkan metakognisi dengan fungsi kontrol atau pemrosesan informasi. Walaupun pendefinisiannya berbeda, namun secara umum  metakognisi merupakan kesadaran atau pengetahuan seseorang terhadap proses dan hasil berpikirnya (kognisinya) serta kemampuannya dalam mengontrol dan mengevaluasi proses kognitif tersebut.
Jawaban tentang proses mental mana yang digunakan, kapan,
bagaimana dan mengapa, terletak pada kapasitas manusia tentang
metakognisi yang sering diartikan sebagai ”thinking about
thinking” atau ”knowledge about knowledge”, merupakan kognisi
tentang proses kognitifnya sendiri dan merupakan kemampuan
orang untuk memonitor, mengendalikan serta mengorganisasi
aktivitas mentalnya sendiri.

Pengertian Metakognisi

Istilah Metakognisi dimunculkan oleh beberapa ahli psikologi sebagai hasil penelitian terhadap kondisi, mengapa ada orang yang belajar dan mengingat lebih dari yang lainnya?  Secara harfiah metakognisi terdiri dari awalan  meta yang artinya “sesudah” dan  kata kognisi. Metakognisi dapat diartikan sebagai kognisi tentang kognisi, pengetahuan tentang pengetahuan atau berpikir tentang berpikir. Menurut Anderson dan Krathwohl (2001), penambahan awalan “meta” pada kata kognisi untuk merefleksikan ide bahwa metakognisi adalah “tentang” atau “di atas” atau “sesudah” kognisi. Di samping itu, pengertian metakognisi hampir sama dengan pengertian perefleksian terhadap apa yang dipikirkannya. (deSoete, 2001). Kata reflektif berasal dari kata ”to reflect” artinya ”to think about”.
Istilah metakognisi yang diperkenalkan Flavell (Yong & Kiong, 2006), mendefinisikan aspek pertama dari metakognisi sebagai pengetahuan seseorang terhadap proses hasil kognitifnya atau segala sesuatu yang berhubungan dengannya, kemudian aspek kedua dari metakognisi didefinisikan sebagai pemonitoran dan pengaturan  diri terhadap aktivitas kognitif sendiri.
Schoenfeld (1992) mendefinisikan metakognisi sebagai pemikiran tentang pemikiran sendiri yang merupakan interaksi antara tiga aspek penting  yaitu: pengetahuan tentang proses berpikir sendiri, pengontrolan atau pengaturan diri, serta keyakinan dan intuisi. Interaksi ini sangat penting karena pengetahuan kita tentang proses kognisi kita dapat membantu kita mengatur hal-hal di sekitar kita  dan menyeleksi strategi-strategi untuk meningkatkan kemampuan kognitif kita selanjutnya.
Metakognisi mencakup kemampuan untuk bertanya dan menjawab pertanyaan berikut:
o   Apa yang saya tahu tentang hal ini, topik masalah subjek?
o   Apakah saya tahu apa yang harus saya ketahui?
o   Apakah saya tahu di mana saya bisa mendapatkan beberapa informasi, pengetahuan?
o   Berapa banyak waktu yang saya perlukan untuk belajar ini?
o   Apa saja strategi dan taktik yang bisa saya gunakan untuk belajar ini?
o   Apakah aku mengerti apa yang saya dengar, baca atau lihat?
o   Bagaimana saya tahu jika saya sedang belajar pada tingkatan yang sesuai?
o   Bagaimana saya bisa melihat jika saya membuat satu kesalahan?
o   Bagaimana saya harus merevisi rencana saya jika tidak sesuai dengan harapan/kepuasan saya?


C.           IMPLIKASI DALAM PENDIDIKAN
Metakognisi dalam pembelajaran merupakan konsep penting dalam teori kognisi. Metakognisi tidak sama dengan kognisi, misalnya keterampilan membaca suatu teks berbeda dengan keterampilan pemahaman  terhadap teks tersebut. Metakognisi mempunyai kelebihan dimana seseorang mencoba merenungkan cara berpikir atau merenungkan proses kognitif yang dilakukannya.
Mengingat pentingnya peranan metakognisi dalam keberhasilan belajar, maka upaya untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dapat dilakukan dengan meningkatkan metakognisi mereka. Mengembangkan metakognisi pembelajar berarti membangun fondasi untuk belajar secara aktif. Guru sebagai sebagai perancang kegiatan belajar dan pembelajaran, mempunyai tanggung jawab dan banyak kesempatan untuk mengembangkan metakognisi pembelajar. Strategi yang dapat dilakukan guru atau dosen dalam mengembangkan metakognisi peserta didik melalalui kegiatan belajar dan pembelajaran adalah sebagai berikut (Taccasu Project, 2008).
1)      Membantu peserta didik dalam mengembangkan strategi belajar dengan:
§   Mendorong pembelajar untuk memonitor proses belajar dan berpikirnya.
§   Membimbing pembelajar dalam mengembangkan strategi-strategi belajar yang efektif.
§   Meminta pembelajar untuk membuat prediksi tentang informasi yang akan muncul atau disajikan berikutnya berdasarkan apa yang mereka telah baca atau pelejari.
§   Membimbing pembelajar untuk mengembangkan kebiasaan bertanya.
§   Menunjukkan kepada pembelajar bagaimana teknik mentransfer pengetahuan, sikap-sikap, nilai-nilai, keterampilan-keterampilan dari suatu situasi ke situasi yang lain.
2)      Membimbing pembelajar dalam mengembangkan kebiasaan peserta didik yang baik melalui :
a)    Pengembangan kebiasaan mengelola diri sendiri
Pengembangan kebiasaan mengelola diri sendiri dapat dilakukan dengan:
(1) mengidentifikasi gaya belajar yang paling cocok untuk diri sendiri (visual, auditif, kinestetik, deduktif, atau induktif);
(2)memonitor dan meningkatkan kemampuan belajar (membaca, menulis, mendengarkan, mengelola waktu, dan memecahkan masalah);
(3)Memanfaatkan lingkungan belajar secara variatif (di kelas dengan ceramah, diskusi, penugasa, praktik di laboratorium, belajar kelompok, dst).
b)    Mengembangkan kebiasaan untuk berpikir positif
Kebiasaan berpikir positif dikembangkan dengan :
(1) meningkatkan rasa percaya diri (self-confidence) dan rasa harga diri (self-esteem) dan
(2) mengidentifikasi tujuan belajar dan menikmati aktivitas belajar.
c)    Mengembangkan kebiasaan untuk berpikir secara hirarkhis
Kebiasaan untuk berpikir secara hirarkhis dikembangkan dengan :
(1) membuat keputusan dan memecahkan masalah dan
(2) memadukan dan menciptakan hubungan-hubungan konsep-konsep yang baru.
d)    Mengembangkan kebiasaan untuk bertanya
Kebiasaan bertanya dikembangkan dengan :
(1) mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep utama dan bukti-bukti pendukung;
(2) membangkitkan minat dan motivasi; dan (3) memusatkan perhatian dan daya ingat.
Pengembangan metakognisi pembelajar dapat pula dilakukan dengan aktivitas-aktivitas yang sederhana kemudian menuju ke yang lebih rumit.


BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Perkembangan kognitif adalah pertumbuhan intelektual secara biologis yang ditentukan dan diatur oleh dua proses, yakni organisasi dan adaptasi. Organisasi mengacu pada sifat dasar struktur mental yang digunakan untuk mengeksplorasi dan memahami dunia.

Sedangkan adaptasi mencakup dua proses yaitu asimilasi yang merupakan proses perolehan informasi dari luar, dan pengasimilasiannya dengan pengetahuan dan perilaku kita sebelumnya, dan akomodasi yang meliputi proses perubahan adaptasi skema lama untuk memproses informasi dan objek-objek baru dilingkungannya.

Secara sederhana metakognisi didefinsikan sebagai “memikirkan  kembali  apa yang telah dipikirkan”, bahkan ada ahli yang menghubungkan metakognisi dengan fungsi kontrol atau pemrosesan informasi. Walaupun pendefinisiannya berbeda, namun secara umum  metakognisi merupakan kesadaran atau pengetahuan seseorang terhadap proses dan hasil berpikirnya (kognisinya) serta kemampuannya dalam mengontrol dan mengevaluasi proses kognitif tersebut.
Strategi yang dapat dilakukan guru atau dosen dalam mengembangkan metakognisi peserta didik melalalui kegiatan belajar dan pembelajaran adalah sebagai berikut (Taccasu Project, 2008).
a)    Pengembangan kebiasaan mengelola diri sendiri
b)    Mengembangkan kebiasaan untuk berpikir positif
c)    Mengembangkan kebiasaan untuk berpikir secara hirarkhis
d)    Mengembangkan kebiasaan untuk bertanya





DAFTAR PUSTAKA


Reed, Stephen K. 2011. Kognisi. Jakarta : Penerbit Salemba Humanika

Laurens , Dr. Theresia. 2011. Pengembangan Metakognisi dalam pembelajaran Matematika, Makalah Seminar Nasional Matematika

Huitt, W. 1997. Metakognisi. Interaktif Psikologi Pendidikan .

Yulia Ayriza, Teori Metakognisi, Power Point










[1] Stephen K. Reed. Kognisi. (Jakarta : Penerbit Salemba Humanika, 2011) Hlm. 2